"Lembaga Pembinaan dan Pendidikan bagi Anak-anak Yatim dan Dhuafa" --> Membuka pendaftaran Santri baru TA 2017/2018 .. Gratis Sekolah SMP-SMA... - selengkapnya -

Saat Amal Berbicara

Senin, 2014-01-27. Penulis: Ust. Karianto

ALAM INI, beserta segenap isinya memberi pelajaran yang besar kepada kita, bahwa hidup itu adalah memberi. Ya, memberi ! Memberi manfaat kepada yang lain sebanyak-banyaknya disepanjang kehidupan kita; bukan meminta (diberi) manfaat sebanyak-banyaknya. Dan kerja memberi itu tidak terbatas. Ia bisa dilakoni siapa saja, dalam kondisi bagaimanapun jua, dimana dan kapan saja. Memberi apapun yang dibutuhkan orang-orang yang kita cintai atau orang lain yang sama sekali bukan siapa-siapa kita, hanya dengan semangat ikhlas serta syukur agar mereka tumbuh menjadi lebih baik dan berbahagia. Tapi, seperti bunyi ungkapan Arab popular, "Orang yang tak memiliki apa-apa, tidak bisa memberi apa-apa." Artinya, harus ada energy, harus ada amunisi, harus ada tenaga, harus ada ide, harus ada power, harus ada rasa peduli, harus ada hati yang empati dan harus ada bahan; sebelum kita melakukan kerja memberi (giving). Karena itulah, orang-orang mukmin harus menghindarkan dirinya dari kekosongan dan kehampaan. Jangan sampai dia tidak punya apa-apa, lemah tiada berdaya. Jangan sampai otaknya kosong dari ilmu; jangan sampai telinganya kosong dari sifat peka; jangan sampai matanya pura-pura buta melihat kesusahan sesama saudara; apalagi jangan sekali-kali hatinya kosong dari keimanan. Karena iman adalah alas atau dasar dari kerja memberi. Semua upaya akan menjadi mudah, kalau sedari awal iman sudah menancap kuat menguasi hati. Namun, pastinya ada pertarungan bathin dalam diri kita: "Kita yang kerja susah payah banting tulang, masa harus diberikan kepada orang lain ?" Saudaraku, kita hidup harus memberi manfaat. Hidup akan terasa hambar, gersang tanpa makna jika hanya dilakukan demi kesenangan diri sendiri; "Yang penting, hidupku enak, rumahku nyaman, keluargaku sehat-sehat, karirku mapan, fasilitas hidupku mewah, kebutuhanku terpenuhi. Persetan, dengan urusan orang lain!" Meminjam istilah popular masyarakat Betawi, "Loe-loe, Gue-gue.." Tak peduli apakah tetangga kiri-kanan sangat membutuhkan. Tidak peduli dipojok kota atau diujung kampung serta dipelosok-pelosok desa ada banyak manusia yang sedang menderita, anak-anak jalanan berceceran di jembatan-jembatan penyeberangan, dilampu-lampu merah dan pojok terminal. Rasulullah mengajarkan kepada kita, bahwa nikmat hidup itu adalah dengan banyak memberi manfaat; "sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." Nilai orang beriman setelah amalan sholat, akan ditakar dari seberapa banyak dia bisa memberi manfaat kepada orang lain, bukan seberapa banyak ia bisa mengambil keuntungan dari orang lain. Syaikh Aidh Al-Qarni mengatakan, "Orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat memberi adalah pihak yang memberi itu sendiri. Mereka akan merasakan buah memberi seketika itu juga, dalam jiwa, akhlaq, dan hati nuraninya. Sehingga mereka selalu lapang dada, merasa tenang, tenteram dan damai." Memberi adalah sebuah kerja demi kemudahan kebahagiaan, gairah yang menggelora, serta motivasi orang lain. Oleh karenanya, kerja memberi adalah pekerjaan besar, berpahala besar, hanya sanggup dilakukan oleh manusia-manusia yang berjiwa besar, hanya demi meraih rahmat, ketinggian derajat, kemuliaan dan keberkahan hidup dari Yang Maha Besar, Allah Azza wa Jalla. "...Sebuah keniscayaan bahwa kelak kita semua akan kembali kepada Allah SWT, maka persiapkanlah dari sekarang pertemuan itu dengan amal sholeh yang manfaatnya dirasakan terus menerus oleh umat Islam dan seluruh makhluq hingga pahalanya pun akan terus mengalir untuk kita..." Saudaraku, kebanyakan dari kita ketika memejamkan mata untuk mengakhiri aktifitas di malam hari, seakan telah mendapatkan jaminan bahwa keesokan harinya masih berkesempatan untuk membuka mata kembali. Masing-masing kita membayangkan aktifitas esok hari yang akan dilakukannya. Seakan dirinya akan hidup selamanya dan tidak akan pernah mati. Tidak ada sedikitpun persiapan yang dilakukan untuk menghadapi kematian, padahal boleh jadi itu adalah malam terakhir baginya, dan di pagi harinya dia tidak pernah lagi bangun dari tidurnya. Saudaraku, dunia hanyalah tempat singgah sesaat, sementara akhir perjalanan kita adalah negeri akhirat. Panggilan untuk melanjutkan perjalanan bisa saja datang menghampiri kita setiap saat. Dan ketika panggilan itu datang, kita harus segera berangkat dan tidak bisa menolaknya. Rasulullah SAW menggambarkan kehidupan kita di dunia bagaikan seorang musafir yang sedang berteduh sejenak di bawah pohon, kemudian pergi lagi untuk melanjutkan perjalanan. Karena itu, sudah seharusnya kita lebih memikirkan untuk memperbanyak bekal dan membangun rumah yang akan kita huni selamanya di akhirat kelak daripada rumah dunia yang hanya kita tempati sementara. Semoga Allah, senantiasa melimpahkan kesehatan kepada kita, rizki yang barokah, mengangkat derajat kita dengan ilmu dan hikmah, serta merahmati dan meridhoi kita semua. Amin....

Kembali...
top